terima kasih anda berkunjung ke blog yang langka pengunjung ini, disamping anda blog ini saya kunjungi sendiri, welcome!

Profesionalisme Guru

Perubahan kurikulum dan penyempurnaan kurikulum selama ini telah membuat guru berpendapat banyak ragam dan cara menyikapinya juga bervariasi. Ada yang optimis dan tidak sedikit yang pesimis, yang optimis menganggap bahwa kemajuan sudah selayaknya diikuti perubahan-perubahan sementara yang pesimis masih mengagungkan sistem lama lebih baik, hal ini mungkin disebabkan bahwa mereka melihat kenyataan dengan sistem yang lama saja perubahan belum begitu terlihat atau mungkin mereka merasa terusik dengan perubahan yang menuntut mereka harus melakukan kesibukan-kesibukan baru. Tapi bagi saya sendiri sebagai guru menyikapi perubahan ini dengan enteng-enteng saja, mencoba berfikir yang jernih-jernih saja.

Berikut ini saya kutipkan tulisan Dr. Bejo Sujanto, M.Pd. dari buku Guru Indonesia dan Perubahan Kurikulum terkait dengan karakter guru yang professional dalam menyikapi perubahan,

Guru professional memiliki karakteristik sebagai berikut :

  • Guru selalu membuat perencanaan mengajar yang konkret dan rinci yang digunakan sebagai pedoman dalam KBM. Ini sebenarnya sudah biasa dilakukan guru, kerena sekali pun pormat berubah-ubah, pada prinsipnya persiapan mengajar guru sudah diwajibkan sejak lama. Saat ini tinggal melakukan berbagai adaptasi saja dari perubahan yang diinginkan.
  • Guru berusaha menempatkan siswa sebagai suyek belajar, guru sebagai pelayan, fasilitator, dan mitra siswa agar siswa dapat mengalami proses belajar bermakna. Ketika guru memposisikan diri sebagai mitra belajar siswa merupakan hal baru, kerena selama ini, guru adalah sebagai pusat perhatian siswa. guru masih sebagai orang sumber belajar utama, dan ada anggapan bahwa guru harus tahu semuanya. Untuk sekolah di perdesaan, guru masih sebagai figure sentral dalam KBM, bahkan dipandang sebagai tokoh masyarakat. mungkin sedikit agak berbeda dengan guru di perkotaan, kerena para siswa memiliki sumber belajar yang lebih bervariasi dan teknologi informasi menjadi pilihan alternatife, maka peran guru sebagian sudah dapat diganti oleh teknologi informasi tersebut.
  • Guru dapat bersifat kritis, teguh, dalam membela kebenaran dan bersikap inovatif. Untuk dapat bersikap kritis, guru dituntut memiliki pengetahuan yang cukup, menguasai substansi materi pelajaran dengan baik, memiliki informasi luas tentang pe ndidikan dan kehidupan masyarakat, serta memahami arah dan kewajiban politik pendidikan yang terus berubah sesuai dengan tuntuan zamannya

  • Guru juga bersikap dinamis dalam mengubah polo pembelajaran(peran siswa, peran guru, dan gaya mengajarnya). Peran siswa di geser dari citra”konsumen” gagasan(menyalin, mendengar, menghafal,mencatat) menjadi citra “produsen” atau “pembangunan” gagasan(bertanya, meneliti, menganalisis, mengarang, menulis kisah sejarah).
  • Guru juga berani meyakinkan pihaak lain(kepala sekolah, orang tua dan masyarakat) tentang rancangan inovasi yang akan dilakukan, dangan argumentasi logis-kritis. Untuk dapat melakuan hal itu, guru harus belajar terus menerus, agar dapat memiliki pengetahuan yang komprehensif, sehingga langkah inofasi merupakan bagian dari sifat kritis terhadap tuntutan perubahan.
  • Guru harus kreatif membngun dan menghasilkan karya pendidikan seperti: tilisan ilmiah, pembuatan alat Bantu belajar, menganalisis bahan ajar, organisasi kelas dsb. Proses kreatif seperti ini berjalan secara silmultan dangan proses pembelajaran. Kreatifitas harus dapat menunjang keefektifan pembelajaran.

Memperbaiki sikap mental anak didik

Apabila kita temui sikap anak didik yang baik maka judul diatas tak perlu ada lagi. Tapi jika ketemu sikap mental anak yang jelek maka judul diatas perlu di kaji.
Pekerjaan yang berat bagi seorang guru adalah memperbaiki sikap mental negatif anak.Seminggu atau sebulan biasanya jauh dari cukup waktu untuk merubah sikap negatif menjadi positif. Sangat sulit, namun bukan berarti tidak mungkin, kesabaran demi kesabaran perlu dijalani, umpamakan saja seperti menunggu hari pernikahan dengan seorang yang kita cintai, sekalipun terasa lama namun kita nikmati saja (maksudnya kita bayangkan yang indah-indah saja).

Lalu apa yang harus kita lakukan? Mulai dari mana?

Kita ambil saja langah yang sering dilakukan oleh para ahli,
Pertama, memperbaiki filsafat hidup yang dipedomani yaitu dengan memperbanyak ilmu pengetahuan yang bisa mengganti muatan negatif pikiran manusia. Katanya pengetahuan itu dapat diambil dari buku, sekolah dan pergaulan dengan orang yang berbeda. Perbedaan pemahaman hidup akan berbeda antara orang yang berprestasi tinggi, sedang, maupun sedikit berprestasi. Pepatah megatakan ‘orang besar berbicara ide, gagasan dan kemajuan. Orang menengah berbicara tentang peristiwa apa yang terjadi. Orang bawah membicarakan tentang orang lain baik kehebatan maupun kejelekannya.’ Mudah-mudahan tidak banyak berbicara kejelekannya.
Kedua, mengontrol pilihan hidup, mengusahakan bahwa jalan hidup perlu dipertimbangkan dan merupakan pilihan sendiri bukan orang lain. Yakinkan bahwa apapun yang terjadi pada diri manusia merupakan ketetapan Tuhan atas pilihan manusia itu.
Ketiga, memperbaiki kebiasaan dengan …
Menghapus kebiasan buruk, atau mengurangi kebiasaan buruk, jika tidak, menambah kebiasaan positif. Atau bahkan ketiganya dilaksanakan.
Menurut ahli juga bahwa kualitas hidup dapat diperbaiki dengan cara :

- merumuskan sasaran yang lebih tinggi
- rencanakan tindakan
- jalankan rencana
- pelajari hasil pelaksanaan rencana
- lakukan terus dengan cara yang lebih baik.
Rata Penuh
Anak didik yang bermental jelek perlu ditanamkan langkah seperti diatas.

Sumber bacaan buku seni pembelajarn diri – AN Ubaedy